Oleh: Ahmad Sulthan Aulia
Ada masa ketika kita hanya memiliki langit sebagai tempat menitipkan harapan. Langkah terasa berat, jalan begitu panjang, dan masa depan masih berupa kabut yang belum bersedia memperlihatkan ujungnya. Pada masa itu, kita begitu akrab dengan doa. Setiap malam terasa seperti ruang pengakuan, tempat air mata berbicara lebih fasih daripada lisan. Kita memeluk harapan dengan tangan yang gemetar, sebab tidak ada lagi yang dapat diandalkan selain keyakinan bahwa Tuhan sedang menulis sesuatu yang belum mampu kita baca.
Perjuangan adalah musim yang mengajarkan manusia arti menjadi kecil.
Ia mengikis kesombongan sebelum kesombongan sempat tumbuh. Ia mematahkan ego agar hati belajar bersandar. Ia membuat seseorang memahami bahwa sekuat apa pun kaki melangkah, tetap ada tangan yang tak terlihat yang menuntun setiap jejak.
Maka aneh rasanya ketika seseorang lupa pada musim yang pernah membesarkannya.
Padahal pohon yang kini menjulang pernah menjadi benih yang lama terkubur dalam tanah. Tak seorang pun memuji ketika ia sedang merekah di bawah kegelapan. Tak ada tepuk tangan ketika akarnya memilih menembus bebatuan daripada menyerah. Yang terlihat manusia hanyalah rimbunnya daun, sementara luka-luka akar dibiarkan menjadi rahasia bumi.
Begitulah perjuangan.
Ia selalu bekerja dalam sunyi.
Ia tidak menyukai sorak-sorai, sebab yang paling berisik sering kali justru paling sedikit bertumbuh.
Lihatlah sungai.
Airnya tidak pernah berteriak bahwa ia sedang menuju lautan. Ia hanya terus mengalir, menembus batu, memeluk tikungan, menerima lumpur, kehilangan kejernihan, lalu jernih kembali. Kesabarannya bukan karena ia lemah, tetapi karena ia tahu bahwa laut tidak pernah berpindah tempat untuk menyambut sungai. Sungailah yang harus setia mengalir hingga sampai.
Begitu pula perjuangan.
Ia bukan tentang siapa yang paling cepat tiba. Ia adalah tentang siapa yang tetap berjalan ketika jalan mulai kehilangan penonton.
Sebab ada orang-orang yang hanya kuat selama tepuk tangan masih terdengar. Ketika dunia berhenti memandang, semangatnya ikut padam. Padahal matahari tidak pernah meminta langit bertepuk tangan setiap kali ia terbit.
Maka janganlah mengejar pengakuan.
Karena pengakuan manusia ibarat embun di ujung daun. Indah saat dipandang, tetapi lenyap sebelum matahari mencapai puncaknya.
Yang lebih abadi adalah jejak yang ditinggalkan oleh ketekunan.
Sering kali kita mengira perjuangan adalah tentang mencapai puncak.
Padahal puncak hanyalah satu titik yang sebentar.
Perjuangan yang sesungguhnya adalah setiap langkah kecil yang tak pernah berhenti sekalipun tidak ada yang melihat.
Bunga tidak pernah memaksa kupu-kupu datang.
Ia hanya sibuk mekar.
Dan justru karena ia memilih mekar, kupu-kupu menemukan jalannya.
Begitu pula manusia.
Jangan sibuk mengejar tepuk tangan.
Mekarlah.
Tumbuhlah.
Biarkan kualitasmu menjadi aroma yang ditemukan orang lain tanpa perlu engkau mengumumkannya.
Namun ingatlah…
Perjuangan yang paling berat bukanlah melawan dunia.
Melainkan melawan diri sendiri setelah dunia mulai berpihak.
Sebab banyak orang gagal bukan ketika mereka miskin, tetapi ketika mereka berhasil.
Mereka lupa rasa lapar yang dahulu membuat mereka bekerja hingga larut malam.
Mereka lupa doa-doa yang dahulu dibisikkan dalam sujud.
Mereka lupa bahwa langkah pertama mereka lahir dari air mata, bukan dari kemewahan.
Padahal gunung yang paling kokoh pun tetap diam meski puncaknya menyentuh awan.
Semakin tinggi ia berdiri, semakin dalam akarnya memeluk bumi.
Barangkali begitulah seharusnya manusia.
Semakin tinggi kedudukannya, semakin rendah hatinya.
Semakin luas ilmunya, semakin lembut lisannya.
Semakin banyak pencapaiannya, semakin sedikit ia merasa memiliki.
Karena hidup bukan perlombaan untuk terlihat paling bercahaya.
Hidup adalah perjalanan agar cahaya itu tidak pernah padam di dalam dada.
Kelak, ketika usia telah selesai menghitung dirinya sendiri, tidak ada yang bertanya berapa banyak pujian yang pernah kita kumpulkan. Tidak ada yang mengingat berapa banyak orang berdiri menyambut kedatangan kita.
Yang tersisa hanyalah pertanyaan yang sederhana, namun mengguncang:
Masihkah engkau menjadi orang yang sama seperti ketika pertama kali bermimpi?
Masihkah engkau mengenang jalan berbatu yang pernah menguatkan langkahmu?
Ataukah engkau telah menjadi menara yang lupa pada tanah tempat batu pertamanya diletakkan?
Sebab sejatinya, perjuangan bukanlah tentang berhasil mengubah nasib.
Perjuangan adalah tentang memastikan bahwa ketika nasib telah berubah, hati kita tidak ikut berubah menjadi asing terhadap asal-usulnya. Di sanalah kemenangan yang paling sunyi, sekaligus yang paling agung.
Banyuwangi, 9 Juli 2026
